Oleh: parapencarikebenaran | Oktober 10, 2008

Totto-chan, Pendidikan Dasar yang Visioner

Jendela Jernih Memahami Dunia Anak

Judul Buku : Totto-Chan, Gadis Cilik di Jendela
Penulis : Tetsuko Kuroyanagi
Alih Bahasa : Widya Kirana
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Cetakan I, Mei 2003
Tebal : 272 halaman

Jika ada siswa kelas satu sekolah dasar dikeluarkan dari sekolah, apa yang terpikir di benak Anda? Mungkin orang menduga siswa tersebut anak nakal yang sulit diatasi guru-guru di sekolahnya. Namun, di tangan seorang kepala sekolah dasar yang bijak, anak tersebut kelak tumbuh sebagai orang dewasa yang sukses; orang dewasa yang memiliki karakter kuat, mandiri, dan santun. Dia adalah Tetsuko Kuroyanagi. Nama ini sangat terkenal di Jepang karena setiap hari Tetsuko muncul di televisi sebagai pengasuh acara Tetsuko’s Room.

Pada tahun 1981, Tetsuko menerbitkan buku ini yang ditulis berdasarkan pengalaman masa kecilnya yang lucu, unik, dan indah. Hanya dalam waktu singkat, buku ini meraih best seller. Totto- chan membuat sejarah dalam dunia penerbitan di Jepang saat itu dan terjual sebanyak 4,5 juta buku dalam setahun. Penulisnya menerima hadiah untuk buku nonfiksi dan tiga penghargaan lainnya. Pemerintah Jepang memutuskan buku ini sebagai buku wajib dalam dunia pendidikan. Royalti buku ini disumbangkan oleh Tetsuko untuk mendirikan teater profesional pertama di Jepang khusus untuk orang tuna rungu.

Totto-chan adalah nama kecil Tetsuko Kuroyanagi yang pernah dikeluarkan dari sekolah dasar. Dia dianggap selalu menjadi pengacau di kelasnya. Setiap hari ada saja ulahnya yang menjengkelkan para guru. Misalnya, kebiasaannya memandang ke luar jendela saat-saat pelajaran sedang berlangsung. Kemudian secara spontan dia memanggil pemusik jalanan yang lewat di muka kelas sehingga siswa lain pun berduyun-duyun menyaksikan pemusik tersebut. Kadang-kadang dia juga membuka dan menutup laci mejanya berulang kali dengan suara keras untuk memasukkan dan mengeluarkan alat tulisnya (hal 11-15).

Semua hal itu dilakukan Totto- chan karena sifat ingin tahunya yang sangat besar. Namun, di sekolah pertamanya, hal tersebut dipandang sebagai “kenakalan” dan merusak suasana belajar. Pemecatannya dari sekolah itu justru membawa hikmah tersendiri buatnya. Dia masuk sekolah baru yang luar biasa, namanya Tomoe Gakuen (Sekolah Dasar Tomoe). Sekolah yang bukan semata mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga persahabatan, rasa hormat, menghargai orang lain, dan kebebasan menjadi diri sendiri.

Tetsuko Kuroyanagi menulis buku kenang-kenangan masa kecilnya ini untuk dipersembahkan kepada Kepala Sekolah Dasar Tomoe Sosaku Kobayashi. Kobayashi mendirikan Tomoe Gakuen pada tahun 1937 dengan uang pribadinya. Dia pernah berkeliling Eropa (1922-1924 dan 1930) untuk mengunjungi berbagai sekolah di sana dan menyerap pengetahuan sebaik-baiknya. Sebelum mendirikan Sekolah Tomoe, Kobayashi mendirikan Taman Kanak-Kanak Seijo. Guru di taman kanak-kanak tersebut selalu dipesan untuk tidak memaksa anak-anak tumbuh sesuai bentuk kepribadian yang sudah digambarkan. “Serahkan mereka kepada alam. Jangan patahkan ambisi mereka. Cita-cita mereka lebih tinggi daripada cita-cita kalian.” Itulah pesan bijak dari Sosaku Kobayashi yang sangat dalam artinya bagi pertumbuhan kepribadian anak.

Pola didik yang diterapkan Kobayashi sangat berkesan di hati Kuroyanagi. Kobayashi menganut teori tabularasa yang meyakini bahwa setiap anak terlahir seperti kertas putih. Semua anak dilahirkan dengan watak baik. Watak ini dengan mudah bisa rusak karena pengaruh lingkungan atau orang dewasa di sekitarnya. Tugas para guru dan orang dewasa lain di sekitarnyalah untuk menemukan watak baik setiap anak dan mengembangkannya agar mereka menjadi orang dewasa dengan kepribadian yang khas. Kobayashi pun sangat menghargai segala sesuatu yang alamiah dan ingin agar karakter anak-anak berkembang sealamiah mungkin. Hal ini tergambar dengan baik melalui penceritaan yang bertahap sejak awal Totto-chan tiba di Sekolah Tomoe. Pada hari pertama masuk sekolah, selama empat jam sang kepala sekolah dengan sabar mendengarkan Totto-chan bercerita tentang berbagai hal, tanpa menyela, apa lagi memotong ceritanya. Hingga akhirnya si Totto-chan kehabisan bahan cerita (hal 24-28). Kesabaran ini menumbuhkan rasa percaya diri yang kuat pada Tottochan. Dia merasa kepala sekolah begitu tertarik pada ceritanya. Kepala sekolah begitu menyayanginya dan membuat dia tidak sabar untuk segera belajar di sekolah itu.

Kurikulum di Sekolah Tomoe tidaklah sama dengan kurikulum yang diberlakukan di sekolah lain di Jepang pada saat itu. Kobayashi berusaha menyelami dunia anak-anak, mengikuti irama anak-anak, dan membiarkan anak-anak menemukan kepercayaan diri dan potensi mereka.

Di awal pelajaran, para guru akan menuliskan semua soal dan pertanyaan mengenai hal-hal yang akan diajarkan hari itu. Kemudian guru akan berkata, “Sekarang, mulailah dengan salah satu dari ini. Pilih yang kalian suka.” Setiap anak akan mulai dengan mempelajari hal-hal yang mereka minati. Para murid bebas berkonsultasi dengan guru kapan saja dia merasa perlu. Guru akan mendatangi murid jika diminta dan menjelaskan setiap hal hingga anak itu mengerti. Kemudian mereka diberi latihan-latihan lain untuk dikerjakan sendiri. Tidak ada murid yang duduk menganggur dengan sikap tak peduli ketika guru menjelaskan sesuatu. Semua siswa sibuk memecahkan berbagai masalah yang diberikan guru (hal 37-38).

Hal ini mengingatkan kita pada sistem modul yang pernah diterapkan di Indonesia. Sayangnya, kini penerapan sistem modul hanya diterapkan pada sekolah-sekolah tertentu. Memang, sistem modul yang sangat mengakomodasi perkembangan siswa yang berbeda-beda akan menuntut berbagai persyaratan. Di antaranya adalah jumlah siswa yang tidak terlalu banyak, pengetahuan guru yang memadai, konsentrasi guru yang tinggi, media pengajaran yang memenuhi kebutuhan siswa, dan tentu saja biaya pelaksanaan yang tidak sedikit. Padahal jika sistem ini terus diterapkan, bukan tidak mungkin anak-anak Indonesia pun dapat berkembang cepat sesuai kompetensi dan kepribadian khas yang dimilikinya.

Selain cara pengajaran yang berbeda dengan sekolah-sekolah lain, sebagian besar jam pelajaran di Tomoe diisi dengan pelajaran musik. Ada berbagai macam pelajaran musik. Di antaranya adalah euritmik. Euritmik adalah semacam pendidikan tentang ritme atau irama khusus yang diciptakan oleh Emile Jaques Dalcroze untuk mengasah kepekaan dan intelektualitas siswa. Dalam latihan euritmik, anak-anak diajarkan bagaimana mendengarkan dan merasakan musik di pikiran mereka. Musik bukan hanya dinikmati dengan telinga, tetapi juga dengan gerak. Pelajaran ini selalu menarik untuk anak-anak di Sekolah Tomoe. Kobayashi selalu menyempatkan diri untuk mengajarkan euritmik, betapapun sibuknya dia sebagai kepala sekolah.

Kelas Totto-chan mempelajari euritmik dengan melatih tubuh mengikuti irama. Para siswa boleh berjalan dengan gaya sesuka hati, asal jangan bertabrakan dengan anak lain. Tujuan euritmik adalah melatih pikiran dan tubuh untuk sadar akan adanya irama, selanjutnya mencapai keselarasan antara jiwa dan raga, sampai akhirnya membangkitkan imajinasi yang merangsang kreativitas (hal 104). Kobayashi tidak ingin anak-anak menjadi manusia yang punya mata, tapi tidak melihat keindahan; punya telinga, tapi tidak mendengar musik; punya pikiran, tapi tidak memahami kebenaran; punya hati, tapi hati itu tak pernah tergerak dan karena itu tidak pernah terbakar (hlm. 106).

Jadi, apa yang sekarang populer dalam sistem pendidikan yang berupaya mengembangkan potensi otak kanan dan otak kiri dengan sebaik-baiknya, jauh-jauh hari sudah dilakukan Sosaku Kobayashi di Sekolah Tomoe. Itulah sebabnya, buku ini baik dibaca bukan hanya untuk anak-anak, tapi juga untuk kalangan pendidik dan orang dewasa yang ingin belajar memahami dunia anak-anak dengan sudut pandang yang lebih tepat.

Liliana Muliastuti Dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Jakarta

Oleh: parapencarikebenaran | September 25, 2008

Pelajaran Hari ini: Berguru dari seorang Guru

Selepas sholat dzuhur saya sempatkan untuk bersilaturahim dengan imam sholat berjama’ah hari ini(23/09/08). Pak Masrani, siang yang terik membuat orangt-orang sedikit malas rupanya untuk ke musholla. Kami pun sholat hanya berdua.

Setelah berdoa bersama, saya pun lantas bersalaman dengan beliau.

“Belum pulang?” tanya beliau

“Belum pak, Insya Allah kalau tidak Sabtu ya ahad ini.”

“Ya, bagus lah. Biar jenguk Mamak di kampung.”

Saya hanya tersenyum. pembicaraan kami akhirnya berganti-ganti topik. mulai dari cerita beliau soal mertua beliau yang mewakafkan tanahnya untuk musholla(yang sedang kami gunakan ini), masalah TPA Nurul qolbu yang beliau kelola berdua saja bersama istri beliau dan juga masalah mengajar. Maklum beliau ini adalah guru agama di sebuah SMP. Pun dengan istri beliau.

Saya pun tertarik dengan masalah mengajar.

“Jadi” kata beliau “Mengajar itu harus sabar. Gak boleh mukul. Biar bandelnya anak didik, pasti ada jalan untuk mendekati.”

Saya hanya menganggukkan kepala.

“Yang bandel-bandel itu sebenernya memang butuh perhatian.” lanjut beliau.

Sebenarnya bagian ini saya sudah sering dengar. Bahwa anak bandel harus sering diberi perhatian. Cuma kadang orang-orang selain Pak MAsrani biasa pandai berteori. Akhirnya, siang itupun saya tahu salah satu bentuk perhatian. Dan ternyata cukup sulit bagi saya untuk bisa mencontoh.

“Saya dulu punya siswa yang bandel. Saya dekati dia.”ujar beliau

Pak Masrani kemudian membetulkan sarungnya. “Pulang sekolah saya tanya dia, rumahmu dimana? Boleh gak bapak silaturahmi?. terus dia bilang “”oh, boleh pak.”" Habis itu saya ketemu orang tuanya.”

Saya menganggukkan kepala.

“Saya tanya baik-baik ke orang tuanya, gimana kabarnya? gimana anak itu di rumahnya? habis sekolah apa yang dikerjakan? padahal bapaknya anak itu kalau di lihat sekilas ya galak. Waktu itu saya masih muda. Baru-baru mengajar.” kenang pak Masrani

“Nah” belaiu melanjutkan ceritanya” yang harus dilakukan sebagai guru itu kita harus melindungi muridnya, waktu bapaknya bilang anaknya nakal, saya bilang “”ndak pak, anaknya ndak nakal.”" sebisa mungkin saya bangun situasi dimana orang tuanya bukan malah akan memarahi, tapi malah menyemangati anaknya untuk berubah.”

“semua masalah biasanya hanya karena komunikasi.” kata beliau

“Bahkan pada murid yang bandel kadang saya tugaskan jadi ketua kelas. Sya bilang”"kamu itu tegas, jadi mulai sekarang kamu jadi tangan kanan bapak. kalau bapak gak ada, kamu yang jadi pengarah teman-teman.”" ujar beliau.

Sebenarnya masih banyak cerita dari beliau, tapi beberapa hal yang saya catat dalam benak saya. Bahwa “mencintai anak didik, berarti mempercayai mereka.” dan “mempercayai hanya muncul dari komunikasi.”

Oleh: parapencarikebenaran | September 16, 2008

PRINSIP-PRINSIP DA’WAH ISLAMIYYAH(Fathi Yakan-1)

A. PARA DA’IE YANG BERADA DI PINGGIR DA’WAH
Ramai di kalangan para da’ie masa kini yang belum benar-benar
memahami tentang selok-belok dan tujuan yang harus mereka ikuti; memahami
berapa jauhkah jarak yang akan mereka tempuh. Mereka belum insaf bahawa
da’wah adalah pengorbanan. Mereka belum mengerti tentang apa yang harus
mereka korbankan dalam melaksanakan tugasnya itu, baik yang berupa harta
dan jiwa raganya. Hal ini menyebabkan para da’iee sering menjadi contoh yang
tidak baik terhadap ajaran Islam yang mereka sampaikan kepada masyarakat.
Mereka menjadi contoh yang tidak mulia terhadap perbuatan baik yang mereka
kemukakan dalam Amar-ma’rufnya. Dengan demikian mereka menjadi beban
yang berat bagi da’wah. Mereka menjadi batu penghalang yang
memperlambatkan kelancaran da’wah.

Di antara mereka ada yang menyangka bahawa perintah-perintah Islam
itu gugur dari pundak mereka kalau mereka sudah menulis buku tentang Islam,
atau menulis artikel yang dimuatkan dalam surat khabar atau majalah, atau
menyampaikan khutbah yang jitu di masjid, atau mengisi pengajian tetap Ada
pula yang menyangka bahawa puncak kemuliaan dan kedudukan yang dicita-
citakan ialah terdaftar namanya sebagai pengurus yang aktif dalam sesuatu
jama’ah Islam dan nampak kegiatannya menghadiri program-program yang
bertujuan memajukan jama’ah itu….!

Kita tidak ragu lagi bahawa mereka ini dan mereka itu adalah para
petugas yang baru tegak di pinggir da’wah, di tepi ‘amal keislaman. Mereka
belum turut terjun ke bidang da’wah. Mereka malahan belum turut masuk ke
RUANG LINGKUP agama Islam yang sebenamya, malah masih belum turut
menghirup udaranya yang segar…!

Pengertian yang benar tentang tugas ber’amal dalam Islam, seharusnya
mendarah daging dalam fikiran mereka yang bertugas di lapangan itu. Mereka
sedang mengajak masyarakat dan memberi contoh untuk mengerjakan sesuatu
yang bernama “PENGORBANAN”. Pengorbanan dalam ertinya yang luas,
melewati batas-batas jenisnya dan sifatnya. Pengorbanan mencakupi segala
peredaran dalam roda Islam, walau bagaimanapun hangatnya keadaan dan
suasana alam sekitar, dan bagaimanapun beratnya tugas yang harus
dilaksanakan!

ﻞﻤﻬﻟا ﻊﻤىﻋﺮﺗ نا ﻚﺴﻔﻨﺑﺎﺑرﺎﻓ ،ﻪﻟ ﺖﻨﻄﻓﻮﻟﺮﻡﻻ كﻮﺤﺷرﺪﻗ .
Sesungguhnya anda sudah dicalonkan unuk tugas itu….
Jika anda telah mengerti hal itu….,
Maka anda perlu mempersiapkan diri….,
Agar jangan sampai tejadi…,
Anda dikenang orang di samping kegagalan

‘Amal dalam Islam merupakan usaha, yang bertujuan merombak
masyarakat Jahiliyyah dalam segala seginya; kemudian membangun masyarakat
Islam dalam segala aspek kehidupan! Jadi, mencabut kebudayaan Jahiliyyah
sampai ke akar-akarnya, baik Jahiliyyah cara berfikir, atau Jahiliyyah susunan
masyarakat, atau Jahiliyyah budi pekerti! Hal itu bererti, bahawa para da’iee
harus berhadapan dengan mereka yang menyiarkan dan mempertahankan
kebudayaan, cara berfikir, budi pekerti, dan segala Ajaran Jahiliyyah itu! Tujuan
terakhir dari da’wah ialah menegakkan agama Allah di bumi ini, dan
meruntuhkan kekuasaan Thaghut….

Jalan yang begini sukar menempuhnya, dan tujuan yang begitu agung, di
samping tugas yang begitu berat, tentu saja sukar untuk dipikul oleh petugas
yang lemah imannya. Yang sanggup mengerjakan tugas itu hanyalah para
penda’wah yang telah mewaqafkan hidupnya untuk berjuang menegakkan
agama Allah…., mereka yang sudah tidak ada yang lebih dicintainya selain Allah
dan Rasul-Nya. Mereka bersedia melepaskan dirinya dari kesenangan hidup
dunia dan segala keinginannya. Mereka tidak mahu mengarahkan kegiatannya
untuk meni’mati godaan dunia ini, dengan segala ragamnya….!

Oleh: parapencarikebenaran | September 16, 2008

RINTANGAN PERJUANGAN DALAM KEHIDUPAN PENDAKWAH

RINTANGAN PERJUANGAN KEHIDUPAN PENDAKWAH
Ketahuillah wahai saudaraku para juru dakwah, sesungguhnya Allah
Subhanahu Wata’ala pasti mengenakan cubaan kepadamu. Dia akan menguji
hakikatmu. Benar-benar seperti yang pernah dinyatakannya di dalam Al Qur’an
dengan firmanNya:

“Aiff lam mim, Adakah manusia mengira bahawa mereka akan dibiarkan saja untuk
mengaku bahawa ‘Kami telah beriman dan sedangkan mereka tidak diuji lagi?
Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka
sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia
mengetahui orang-orang yang dusta.”
(Surah Al Ankabut 1-3)
Di dalam hadith dinyatakan:

“Orang yang paling berat dicuba ialah para Nabi kemudian yang paling baik selepasnya,
kemudian orang yang paling baik selepas itu.”

Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata‘ala, apabila mengasihi satu kaum, dicubanya
mereka itu (dengan berbagai cubaan), barangsiapa yang rela dengan cubaan itu maka
mereka mendapat kerelaanNya (Allah Subhanahu Wata’ala) Barangsiapa yang benci
(marah) maka baginya kemurkaan Allah Subhanahu Wata‘ala.
Pengakuan keimanan sebenarnya memerlukan kepada bukti. Jalan
perjuangan (JIHAD) adalah jalan yang panjang penuh dengan derita dan
sengsara.
Jalan Syurga dihampiri oleh kesusahan manakala jalan ke Neraka dihampiri oleh
keghairahan syahwat.

Dalam meniti liku dan lurah-lurah perjalanan ini kalaulah seorang Da’ei
tidak berada di bawah lindungan Allah Subhanahu Wata’ala, tidak berhubung
terus dengan Nya, tidak bertawakkal kepadaNya, tidak berpegang kepada
KitabNya dan tidak pula mengikuti Sunnah NabiNya maka sebenarnya ia
sedang berada di ambang bencana dan musibah yang besar.

Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam telah meramalkan cabaran dan
dugaan-dugaan yang dihadapi oleh para Mukmin, Da’ei dan Mujahidin di jalan
Allah Subhanahu Wata’ala.
Beliau bersabda:
Orang Mukmin sentiasa diambang 5 dugaan yang susah:
1. Mukmin yang dengki padanya
2. Munafiq yang benci kepadanya
3. Kafir yang memeranginya
4. Syaitan yang menyesatkannya
5. Nafsu yang sering bertarung untuk mengalahkannya
(Hadith ini telah ditakhrijkan oleh Abu Bakar Ibnu Lal dan hadith Anas
dalam tajuk: “Akhlak Yang Luhur.”)

Dalam hadith ini Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam, telah
menghuraikan tentang fitnah dan kesusahan yang sewaktu-waktu boleh
menimpa para Da’ei; supaya mereka dapat berhati-hati dan bersiap sedia.
Mereka hendaklah menyiapkan bekalan yang cukup. Kiranya dengan demikian,
mereka dapat mengatasi segala halangan dan rintangan dengan selamat.

Marilah kita melihat rintangan tersebut satu persatu mengkaji betapa
bahayanya dan betapa pula kesannya. Dengan itu dapat kita menemukan cara-
cara yang boleh diikuti untuk melepaskan diri daripadanya.

Sungguhnya kebijaksanaan adalah laksana barang yang hilang dari seorang Mukmin.
Maka di mana saja ia temui dialah yang berhak mengambilnya

Oleh: parapencarikebenaran | September 16, 2008

Helm, masak bisa bikin syirik???

Seperti malam-malam sebelumnya, setelah pulang dari syuro saya dan teman janjian untuk pulang bareng. Dengan sepeda motor masing-masing kami membelah jalanan kota Tepian nyang sudah sepi senyap. Jam di handphone menunjukkan pukul 23.05 WITA.

Sambil bercerita macam-macam, kami mengendari motor sambil sesekali bermanuver ke kanan dan ke kiri. Tiba-tiba saja teman saya itu melepas helm.

“Ri, pakai tuh helm.”

“Gak papa, kalaudi kampung, ana mana pernaha pajke helm kalau sudah jam segini.”

“Ye…”

kami kembali bercerita yang lain. Tapi selang beberapa menit, tiba-tiba dia memakai lagi helmnya.

“Lho? katanya gak mau pakai helm.”

“Bentar lagi lewat pos polisi..”

“Lho jadi, makai helm karena takut sama polisi?”

“Ana gak takut sama polisi..”

“lha, itu kenapa pakai helm baru sekarang.”

“ya gak papa..”

Saya tersenyum. “Berarti gak ikhlas dong pakai helmnya?”

Si Wari jadi bingung.

“Ya gak juga.”

“lho artinya antum takut sama polisi kan, berati gak ikhlas tuh.” saya menahan tawa.

Si Wari tambah bingung…

“Kalau gak ikhlas, berarti syirik dong, Soalnya makai helm bukan karena Allah. Tapi karemna manusia.”

“Astaghfirullah, iya juga ya….” si Wari geleng-geleng.

“Makanya jangan cuma pakai helm kalau ada polisi doang,Khy.”

—Epilog—

Sering dari kita meremehkan hal-hal sepele. Padahal bisa jadi itu adalah representasi dari pemahaman kita. Kadang kita lebih takut sama manusia dari pada berbuat karena Allah. Bisa jadi ada seorang santri banyak menghapalkan Al Quran bukan karena ia merasa butuh, tapi karena syeikhnya yang “galak”. karena itu pentingnya menanamkan pemahaman kepada siswa, murid atau santri dalam pembelajarannya.

Wallahu’alam

Oleh: parapencarikebenaran | September 16, 2008

Usul Dua Puluh As-Syahid Hasan Al-Banna

USUL DUAPULUH
(USUL ISYRIN) DAN KETERANGANNYA
ASAS PERTAMA:

Islam adalah menyeluruh, mencakup semua bidang hidup; Islam adalah
negara dan watan atau pemerintah dan ummat. Akhlak dan kekuatan atau
rahmat dan keadilan. Pengetahuan dan undang-undang atau ilmu dan
kehakiman. Kebendaan dan harta atau usaha dan kekayaan. Jihad dan dakwah
atau tentera dan fikrah. Akidah yang benar dan ibadat yang sah.

1.1 Keterangan:
Islam adalah agama Allah yang kekal, bersifat umum dan menyeluruh
kerana Islam diturunkan untuk semua manusia, ini jelas dibuktikan oleh firman
Allah:

“Dan kami tidak mengutuskan kamu melainkan kepada ummat manusia seluruhnya
sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi ingat”. (S 34: 28)
Menyeluruh kerana Islam menghukum seluruh urusan hidup manusia,
menghukum segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia dan perkara yang
bersangkut dengan apa yang mereka lakukan. Ini dibuktikan oleh firman Allah:

“Tiadalah kami alpakan sesuatu pun di dalam Al-Kitab” (S 6:38)
dan firman Allah:
ٍ

“Untuk menjelaskan segala sesuatu”(S 16:89)
Di atas dasar sifat-sifat Islam yang tetap dan tiada berubah inilah Al-
Mursyid Hasan Al-Banna Rahimahullah telah berbicara dalam asas yang
pertama ini untuk menjelaskan sebahagian dari perkara-perkara yang
terkandung dalam Islam. Penjelasan yang dibuat oleh Al-Mursyid ini diperkuatkan lagi oleh Al-Quran, yang mana di dalam Al-Quran kita dapati
ayat-ayat yang bersangkutan dengan hukum, ayat-ayat yang bersangkutan
dengan sembahyang, ayat-ayat yang bersangkutan dengan mu’amalat,
kehakiman dan seterusnya.
1.2 Islam adalah negara:
Islam adalah negara, sebagaimana yang diterangkan oleh Mursyid adalah
bermaksud bahawa Islam telah menyentuh hukum-hukum yang menitik
beratkan persoalan negara. Islam bukanlah terbatas dalam lingkungan
hubungan manusia dengan Allah, malah Islam juga menyusun hubungan antara
sesama manusia, hubungan individu dengan jamaah, hubungan jamaah dengan
jamaah yang lain. Jamaah ini pula memilih suatu sistem siasah yang didokong
oleh negara, manakala negara pula mempunyai seorang ketua yang dikenal:
dalam istilah fiqah sebagai imam atau khalifah. Islam telah menerangkan asas
bagi sebuah negara, cara memilih khalifah, menerangkan hak individu terhadap
negara, demikian juga hak negara terhadap individu. Dalam zaman moden ini
kajian dan perbincangan yang lengkap dalam persoalan negara dan
hubungannya dengan individu adalah dibincangkan dalam undang-undang
perlembagaan dan undang-undang perlembagaan adalah merupakan salah satu
dari cabang undang-undang.

Negara (daulah) menurut pandangan Islam adalah negara fikrah, fikrah
Islamiah. Oleh itu daulah dalam Islam adalah daulah fikrah, bukan qaumiah,
bukan jenis dan bukan iklim.

Ketua negara dipilih melalui orang-orang Islam sesuai dengan syarat-
syarat tertentu. Syarat-syarat ini tersimpul dalam dua sifat: kemampuan dan
amanah. Tujuan dan perlantikan ketua negara ialah untuk melaksanakan syariat
dan membimbing manusia untuk melakukannya.

Kedudukan dan peranan individu dalam negara Islam amatlah menonjol
dan berfungsi, tidak dipendap dan diabaikan. Individu adalah
bertanggungjawab terhadap perjalanan negara agar tidak menyeleweng dan
bertanggungjawab terhadap ketua negara agar beliau menunaikan
kewajipannya. Atas dasar ini, individu adalah berhak mengawasi, memberi
nasihat, memberi petunjuk dan mengkritik. Manakala pihak negara pula adalah
bertanggungjawab terhadap individu, bertanggungjawab dalam memberikan
jaminan hidup yang mulia kepada individu.

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.